oleh

Ssst ! Jokowi Tahu Siapa Orang di Balik RI Doyan Impor Migas

Jakarta, HarianSoloRaya – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan pentingnya menekan impor minyak dan gas (migas), dan berjanji akan ‘menggigit’ kepada siapa saja yang menghalangi upaya pemerintah menekan impor migas. Langkah menekan impor migas sangat krusial untuk mengatasi masalah defisit perdagangan hingga defisit transaksi berjalan (CAD) yang sudah menahun.

Hal ini dikemukakan Jokowi saat memberikan pengarahan di depan para pelaku pasar dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2019 di Raffles Hotel, Jakarta.

Jokowi lantas menyinggung ada sejumlah pihak yang justru ‘doyan’ mengimpor minyak. Ia menegaskan bahwa tidak akan segan-segan memberikan hukuman terhadap pihak yang dimaksud.

“Saya tahu yang impor siapa sekarang. Yang sudah saya sampaikan kalau ada yang mau ganggu, pasti akan saya gigit orang itu. Enggak akan selesai kalau masalah ini tidak kita selesaikan,” tegas Jokowi.

Jokowi berjanji akan memberantas para penyuka impor migas. Jokowi menyinggung soal masih ramainya impor minyak dan LPG. “Ada yang senang impor tapi tidak mau diganggu impornya. Baik itu minyak maupun LPG. Ini yang akan saya ganggu,” kata Jokowi.

Ia juga menegaskan bawah diskriminasi yang dilakukan Uni Eropa terhadap komoditas sawit Indonesia tidak perlu dikhawatirkan.

“Kita tidak takut di-banned,” tegas Jokowi.

Jokowi mengaku heran soal produk kelapa sawit Indonesia justru lebih banyak diekspor ke luar negeri. Padahal, komoditas tersebut bisa dimanfaatkan untuk memberikan nilai tambah bagi perekonomian di dalam negeri, dengan hilirisasi.

Salah satunya, adalah dengan menggunakan kelapa sawit sebagai bahan baku program B20. Melalui program ini, membludaknya impor minyak dan gas yang selama ini jadi momok bisa berkurang, karena bisa sebagian digantikan dengan sumber daya lokal.

“Kenapa tidak kita gunakan sendiri, di dalam negeri juga bisa dikerjakan. Kalau ini dikerjakan B20, berjalan dan sudah berjalan,” kata Jokowi

“Sebentar lagi lagi Januari B30, masuk lagi B50, bisa berjalan, artinya impor minyak kita turun secara drastis. Sehingga urusan neraca perdagangan dan transaksi berjalan kita jadi lebih baik,” tegasnya.

Catatan BPS, sepanjang Januari-Oktober 2019 neraca perdagangan Indonesia masih defisit US$ 1,79 miliar. Defisit berasal itu berasal dari ekspor US$ 139,1 miliar dan impor US$ 140,9 miliar.

Secara kumulatif sektor migas juga masih defisit sebesar US$ 7,27 miliar, sedangkan sektor non migas tercatat surplus US$ 5,48 miliar. (Red)

SHARE

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA TERKINI