oleh

Sosialisasi Penangkalan Dan Mitigrasi Paham Radialisme Dan Intoleransi di Gelar Kodim 0724/Boyolali

Boyolali, HarianSoloRaya – Dalam rangka pembinaan teritorial terpadu tahun 2019, Kodim 0724/Boyolali menggelar kegiatan Sosialisasi Penangkalan dan Mitigrasi paham Radialisme dan Intoleransi kepada Prajurit, PNS dan KBT (Keluarga Besar TNI), kegiatan ini berlangsung di Aula Makodim 0724/Boyolali. Selasa, (17/12).

Dandim 0724/Boyolali Letkol Inf Aris Prasetyo, S.I.P, melalui Danramil 17/Wonosegoro Kapten Arh Iswadi Yusuf memaparkan sosialisasi ini. Kegiatan ini digelar guna memberikan pemahaman kepada para anggota beserta keluarga, agar memahami paham radikalisme dan inteloransi.

“Paham radikalisme adalah aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan kekerasan yang mengarah kepada disintegrasi bangsa. Radikalisme juga dapat menjadi terorisme yang berujung pada sifat intoleran, terlalu fanatik, dan anarkis.” ujarnya.

Danramil menambahkan, “Indikator radikalisme menjadi terorisme dimana ada perubahan sifat intoleren, fanatik, tertutup dan anarkis. Tak hanya itu, bahwa terorisme mengancam kesatuan bangsa dan radikalisme itu bukan salah satu agama, akan tetapi oknum yang dipengaruhi oleh ekonomi, sosial dan budaya dan lingkungan setempat,” urainya.

Lebih Lanjut, “Terorisme merupakan penggunaan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan situasi teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas dan menimbulkan korban yang bersifat massal yang mengakibatkan kerusakan atau kehancuran objek vital dan strategis”.

Lebih lanjut dijelaskannya, “Radikalisme adalah embrio lahirnya terorisme dengan beberapa ciri yang bisa dikenali dari sikap dan paham radikal, antara lain intoleran, yaitu tidak mau menghargai pendapat dan keyakinan orang lain, Fanatik yaitu selalu merasa benar sendiri, menganggap orang lain salah dan eksklusif yaitu membedakan diri”.

“Radikalisme merupakan suatu sikap yang mendambakan perubahan secara total dan bersifat revolusioner dengan memutar balikkan nilai-nilai yang ada secara drastis lewat kekerasan dan aksi-aksi yang ekstrem, Sebagai aparat pemerintah, seluruh prajurit harus mampu mengenali bibit-bibit radikalisme dan langkah-langkah yang dapat diambil oleh Babinsa agar dapat mencegah paham radikal berkembang di wilayah desa binaan.” ucapnya.

“Terorisme mengancam kesatuan bangsa. Peran TNI dalam menangkal radikalisme, khususnya Kodim salah satunya adalah meningkatkan 5 kemampuan teritorial dalam lingkungan masyarakat setempat,” lanjutnya.

Dirinya pun meminta peran aktif para Babinsa dalam menginformasikan kepada masyarakat, bagaimana mencegah segala bentuk radikalisme, salah satunya dengan cara menumbuhkan jiwa nasionalisme.

“Para Babinsa harus lebih aktif dalam menginformasikan kepada seluruh masyarakat di wilayah binaan akan pentingnya ajaran agama, untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa ,serta menambah wawasan keagamaan yang moderat, terbuka dan toleran, menanamkan jiwa nasionalisme dan kecintaan terhadap NKRI, bentengi keyakinan diri dengan selalu waspada terhadap provokasi, hasutan dan pola rekruitmen teroris.” pungkasnya. (Red/Agus Kemplu)

SHARE

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA TERKINI