oleh

Ada 2 Wakil Menteri BUMN, Kebutuhan atau Politis ?

HarianSoloRaya, Jakarta – Presiden Republik Indonesia Joko Widodo telah menunjuk 2 Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yaitu Kartika Wirjoatmajo (Tiko) dan Budi Gunadi Sadikin (BGS). Keduanya akan membantu Menteri BUMN Erick Thohir.

Kepala Riset Koneksi Kapital Alfred Nainggolan menilai, selama ini memang belum ada pemerintahan yang memiliki 2 wakil menteri.

Tetapi, jika ditelisik dari kinerja BUMN yang cenderung under-perform, penunjukan BGS dan Tiko diharapkan dapat mengkerek perbaikan signifikan pada kinerja BUMN.

“Emiten BUMN 5 tahun terakhir under-perform dari sisi sahamnya, nilai kapitalisasinya jauh di bawah pasar utk pertumbuhanya. Jadi saya masih belum tahu apakah penunjukan 2 wakil menteri memang kebutuhan Pak Erick Thohir atau kebutuhan politis,” ungkapnya

Alfred bilang, secara fundamental kinerja keuangan BUMN memang tumbuh. Tetapi harga sahamnya malah turun.

“Nah kenapa harga sahamnya melambat? Dari 20 emiten itu hanya 4,7 persen sementara non bumn 7,6 persen per tahun. Lebih cepat non bumn ini kan tanda tanya besar?” kata dia.

Dia pun berharap, ada kebijakan lebih yang dapat menaikkan BUMN di bawah kepemimpinan Erick Thohir dan kedua wakil menteri, baik itu Kartika maupun BGS.

“Kita sebagai orang pasar tinggal melihat bagaimana hasilnya. Kalau lihat Pak Tiko dan BGS seharusnya hasilnya ‘wah’ dong,” pungkasnya.

Bos-bos perusahaan besar ini menerima perintah Jokowi untuk membantu Menteri BUMN, yang sekarang diduduki oleh Erick Thohir. Di kalangan pengusaha, nama mereka sudah sangat familiar, demikian pula dengan perjalanan kariernya.

Bos Inalum, Budi Gunadi Sadikin, merupakan lulusan teknik sipil Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1980. Dia kemudian belajar ekonomi di Washington University, Amerika Serikat.

Sebelum jadi bos tambang, Budi pernah menjabat sebagai Direktur Bank Mandiri selama 2 periode dan staf khusus Menteri BUMN.

Wakil menteri Jokowi ini memulai kariernya di sektor perbankan ketika bergabung dengan PT Bank Bali sebagai GM Electronic Banking.

Selanjutnya karier Budi terus menanjak dengan menjadi Chief GM Jakarta Region dan Chief GM Human Resources hingga akhir 1999.

Pria kelahiran 1964 ini melanjutkan karier baru di perbankan asing dengan bergabung di ABN Amro Bank Indonesia hingga akhir 2004.

Selesai itu, Budi melanjutkan kariernya di PT Bank Danamon Indonesia Tbk sebagai EVP Head of Consumer Banking dan Director Adira Quantum Multi Finance.

Sementara Kartika Wirjoatmodjo sebagai Direktur Utama Bank Mandiri pengganti Budi juga memiliki pengalaman di bidang perbankan yang tak kalah mentereng. Pria yang lahir di Surabaya, 18 Juli 1973 ini mengenyam S1 di Universitas Indonesia jurusan ekonomi dan S2 di Rotterdam School of Management.

Karier Tiko, panggilan akrab Kartika, dimulai dengan menjadi Konsultan Pajak dan Akuntansi di RSM AAJ tahun 1995 hingga 1996. Kemudian, dia bekerja sebagai Analis Kredit di Industrial Bank of Japan tahun 1996 hingga 1998, Senior Consultant di PwC Financial Advisory Services tahun 1998 hingga 1999) dan Boston Consulting Group tahun 2000 hingga 2003.

Di 2003, Tiko menjadi Group Head di Department Head Strategy & Financial Analysis di Strategy and Performance Group Bank Mandiri.

Tiko juga pernah menjabat sebagai Managing Director Mandiri Sekuritas pada 2011, dilanjutkan dengan menjadi CEO Indonesia Infrastructur Finance (anak usaha BUMN PT Sarana Multi Infrastruktur).

Dirinya kemudian ditunjuk sebagai Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) pada 2014. Pada 2015, Tiko ditunjuk sebagai CFO Bank Mandiri dan menjadi Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas). (Red)

SHARE

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA TERKINI